Jakarta, 10 September 2026 – Kebakaran hutan besar yang melanda kawasan pegunungan Ábrego di Departemen Norte de Santander, Kolombia, akhirnya berhasil dipadamkan setelah petugas dan relawan berjibaku selama tiga hari. Kebakaran yang mulai dilaporkan pada 6 September 2026 tersebut menghanguskan sekitar 3.000 hektare tutupan vegetasi dan memberikan dampak besar terhadap kawasan pertanian serta jaringan air masyarakat. Pemerintah setempat memastikan seluruh titik api telah berhasil dikendalikan dan dipadamkan setelah operasi gabungan dilakukan secara terus-menerus. Petugas pemadam kebakaran dari Ábrego dan Ocaña bersama unsur pertahanan sipil, relawan, petani, serta masyarakat setempat terlibat dalam penanganan darurat. Kondisi medan pegunungan yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman harus banyak mengandalkan pergerakan personel melalui jalur darat. Setelah api dinyatakan padam, pemerintah mulai mengalihkan perhatian pada pendataan kerusakan dan kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Wali Kota Ábrego Huber Darío Sánchez Ortega menyatakan kebakaran telah sepenuhnya terkendali setelah tiga hari operasi intensif. Petugas selanjutnya melakukan pemeriksaan terhadap kawasan yang sebelumnya terbakar untuk memastikan tidak terdapat titik panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali. Proses tersebut penting karena sisa bara dapat bertahan di antara material vegetasi kering meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat. Pemerintah daerah juga mulai melakukan pendataan keluarga yang mengalami kerugian akibat kebakaran. Kerusakan tidak hanya terjadi pada kawasan hutan dan vegetasi, tetapi juga menyentuh fasilitas yang digunakan masyarakat untuk menjalankan kegiatan pertanian. Skala kebakaran yang mencapai ribuan hektare membuat proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang, terutama untuk memperbaiki sistem pengairan dan mengembalikan produktivitas lahan.

Kebakaran menyebar ke sejumlah kawasan pedesaan di sekitar Ábrego, termasuk Berlín, Paramillo, La Estancia, El Chorro, Oroque, Monterredondo, dan Brisas del Tarra. Beberapa laporan operasional juga mencatat dampak di Kilómetro 12 dan Quebrada Chiquita. Api bergerak cepat melintasi vegetasi kering dan kawasan perbukitan sehingga petugas harus membentuk beberapa kelompok untuk menahan penyebarannya. Salah satu kawasan yang mengalami kerusakan berat adalah sektor wisata El Mirador. Api menghancurkan fasilitas wisata dan sejumlah infrastruktur luar ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas masyarakat setempat. Kerusakan tersebut menambah dampak ekonomi kebakaran karena masyarakat tidak hanya kehilangan tanaman pertanian, tetapi juga fasilitas yang mendukung kegiatan wisata.

Sektor pertanian menjadi salah satu bagian yang paling terdampak dari kebakaran tersebut. Sejumlah lahan yang ditanami bawang khas wilayah Ocaña, mentimun, dan kacang-kacangan mengalami kerusakan setelah api melintasi kawasan pertanian. Komoditas tersebut menjadi sumber pendapatan penting bagi banyak keluarga petani di wilayah Catatumbo dan sekitarnya. Kehilangan tanaman yang sudah memasuki masa produksi dapat menyebabkan petani kehilangan pendapatan sekaligus harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memulai kembali kegiatan budidaya. Pemerintah setempat karena itu melakukan pendataan terhadap keluarga dan lahan terdampak untuk menentukan skala kerugian secara lebih terperinci. Pemulihan sektor pertanian juga akan bergantung pada kondisi tanah serta ketersediaan air setelah kebakaran.

Kerusakan pada jaringan air menjadi persoalan lain yang harus segera ditangani setelah kebakaran berhasil dipadamkan. Api merusak sejumlah pipa dan selang yang digunakan dalam sistem pengairan masyarakat sehingga beberapa lahan kehilangan pasokan air untuk kegiatan pertanian. Situasi tersebut berpotensi memperpanjang dampak kebakaran apabila fasilitas irigasi tidak segera diperbaiki. Kebakaran bahkan sempat mengancam Cerro Negro yang memiliki fungsi penting sebagai kawasan sumber air bagi wilayah tersebut. Petugas dan masyarakat berupaya menahan api agar tidak terus bergerak menuju kawasan yang memiliki nilai penting bagi pasokan air. Perlindungan sumber air menjadi prioritas karena kerusakan di wilayah tangkapan air dapat memberikan konsekuensi jauh lebih lama dibandingkan kebakaran vegetasi di permukaan.

Operasi pemadaman menghadapi tantangan berat akibat karakter geografis kawasan yang berbukit dan sulit dijangkau kendaraan. Pada tahap awal, tujuh anggota pemadam kebakaran Ábrego dikerahkan untuk menghadapi api yang terus meluas. Kekuatan tersebut kemudian diperkuat pada 7 September dengan kedatangan 12 anggota pemadam kebakaran dari Ocaña. Dua kendaraan pemadam dan dua kendaraan intervensi cepat turut digunakan untuk mendukung operasi. Di sejumlah lokasi yang tidak dapat dicapai kendaraan, petugas harus bergerak dengan berjalan kaki sambil membawa perlengkapan menuju titik api. Masyarakat dan petani juga membantu membuat sekat bakar untuk menghentikan pergerakan api menuju kawasan lain. Kerja bersama tersebut akhirnya memungkinkan petugas mempersempit wilayah aktif hingga seluruh titik kebakaran dapat dipadamkan.

Besarnya api sempat menempatkan petugas dalam situasi berbahaya selama operasi berlangsung. Sejumlah anggota pertahanan sipil harus bekerja sangat dekat dengan kobaran yang di beberapa lokasi mencapai ketinggian sekitar lima meter. Tiga relawan bahkan sempat terjebak di tengah kawasan yang dikelilingi api ketika berusaha melakukan pemadaman. Sejumlah petugas lainnya mengalami paparan asap dalam waktu lama selama operasi. Kondisi tersebut memperlihatkan tingginya risiko yang dihadapi personel ketika menangani kebakaran hutan di kawasan pegunungan. Pergeseran arah angin dapat mengubah pergerakan api dengan cepat sehingga jalur yang sebelumnya dianggap aman dapat berubah menjadi area berbahaya. Meski menghadapi situasi tersebut, tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam operasi pemadaman.

Setelah kebakaran dinyatakan sepenuhnya padam, perhatian kini diarahkan pada dampak ekologis yang ditinggalkan. Sekitar 3.000 hektare vegetasi yang terbakar berarti hilangnya habitat berbagai jenis satwa serta kerusakan terhadap lapisan tanaman yang memiliki fungsi mempertahankan kelembapan tanah. Kawasan yang kehilangan vegetasi juga menjadi lebih rentan terhadap erosi ketika hujan kembali turun. Material abu dapat terbawa ke aliran air dan memengaruhi kualitas sumber air yang digunakan masyarakat. Pemerintah dan lembaga terkait karena itu perlu melakukan evaluasi terhadap tingkat kerusakan sebelum menentukan langkah rehabilitasi. Pemulihan kawasan hutan kemungkinan membutuhkan waktu bertahun-tahun, terutama pada lokasi yang mengalami kebakaran dengan intensitas tinggi.

Penyebab kebakaran hingga proses pemadaman selesai belum ditetapkan secara resmi dalam laporan operasional petugas. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah api muncul akibat faktor alam, aktivitas manusia, atau kombinasi kondisi lingkungan yang membuat vegetasi sangat mudah terbakar. Informasi mengenai penyebab penting untuk menentukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak berulang. Wilayah pegunungan dengan vegetasi kering memiliki risiko tinggi ketika temperatur meningkat dan kelembapan menurun. Aktivitas masyarakat di sekitar kawasan hutan juga perlu dikelola secara hati-hati selama periode rawan kebakaran. Penguatan sistem pemantauan, kesiapan pemadam, akses menuju kawasan terpencil, dan edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kebakaran besar.

Berakhirnya operasi pemadaman setelah tiga hari menjadi awal dari pekerjaan panjang untuk memulihkan kawasan Ábrego dan kehidupan masyarakat yang terdampak. Pemerintah setempat masih melakukan pendataan terhadap keluarga, lahan pertanian, fasilitas wisata, jaringan pengairan, dan kawasan vegetasi yang mengalami kerusakan. Petugas juga tetap melakukan pemantauan untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali memunculkan titik api. Masyarakat yang kehilangan tanaman membutuhkan dukungan agar kegiatan pertanian dapat kembali berjalan, sementara jaringan air perlu segera diperbaiki untuk mempertahankan produktivitas lahan yang masih tersisa. Kerusakan sekitar 3.000 hektare menunjukkan besarnya dampak kebakaran meskipun tidak menimbulkan korban jiwa. Keberhasilan memadamkan api melalui kerja bersama petugas dan masyarakat kini harus dilanjutkan dengan rehabilitasi lingkungan serta pemulihan ekonomi agar dampak kebakaran tidak terus dirasakan dalam jangka panjang.