
Pati, Jawa Tengah – 15 Juli 2025 – Salah satu kuliner khas Jawa Tengah yang sempat tenggelam popularitasnya kini kembali menjadi sorotan nasional. Nasi Gandul, hidangan berkuah kental khas Kabupaten Pati, kini viral di kalangan anak muda dan dinobatkan sebagai salah satu “Top 10 Kuliner Tradisional Favorit 2025” versi platform kuliner MakanMana.id.
Dikenal dengan rasa gurih manis dan aroma rempah yang kuat, nasi gandul mulai digemari kembali berkat promosi digital, inovasi penyajian modern, serta kolaborasi para pegiat UMKM kuliner dengan konten kreator makanan lokal.
Apa Itu Nasi Gandul?
Nasi gandul adalah nasi putih hangat yang disajikan dengan kuah semur santan khas Jawa, berwarna coklat kemerahan, biasanya dengan daging sapi, lidah, babat, atau jeroan lainnya, dilengkapi dengan tempe goreng, telur pindang, dan kerupuk kulit. Ciri khasnya adalah daun pisang yang menjadi alas piring, menciptakan aroma alami saat kuah panas disiramkan.
Nama “gandul” diyakini berasal dari cara penyajiannya zaman dulu: penjual menggantungkan pikulan berisi kuah di salah satu sisi, dan nasi di sisi lain — menggantung (gandul) di bahunya.
Generasi Muda dan “Gandul Modern”
Menariknya, kebangkitan nasi gandul saat ini justru didorong oleh kaum muda. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, mulai bermunculan kafe tematik dan food stall modern yang menyajikan nasi gandul dengan sentuhan baru:
-
Nasi Gandul Mozarella Melt – potongan daging sapi disiram saus keju.
-
Rice Bowl Gandul Mini – versi praktis untuk grab-and-go.
-
Gandul Vegan – tanpa daging, diganti jamur tiram dan tahu karamel.
-
Gandul Fusion Wrap – nasi dan kuah dibungkus tortilla sebagai street food urban.
Kreator konten makanan seperti @jelajahkulinerjogja dan @gandulgasm.id turut mempopulerkan makanan ini lewat video slow-motion kuah disiram panas-panas dan ASMR makan babat yang menggoda selera.
Dukungan Pemerintah & UMKM
Pemerintah Kabupaten Pati tak tinggal diam. Melalui program “Gandul Go Global”, mereka:
-
Menggelar Festival Nasi Gandul Nusantara tiap bulan.
-
Memberikan pelatihan branding digital kepada pelaku warung gandul tradisional.
-
Membantu UMKM mendapatkan sertifikasi halal dan izin BPOM.
-
Berencana mendaftarkan nasi gandul sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.
Beberapa warung legendaris seperti Warung Mbah Soleh (Pati Kota) dan Gandul Bu Ranti (Kudus) mengalami lonjakan pengunjung hingga 300% sejak tren ini merebak.
Aspek Kesehatan dan Isu Gizi
Meski lezat, nasi gandul juga menjadi bahan diskusi di kalangan ahli gizi karena kandungan lemaknya yang cukup tinggi. Sebagai respons, beberapa penyedia makanan menghadirkan versi rendah santan dan rendah garam, serta pilihan karbohidrat pengganti seperti nasi merah atau shirataki rice.
Hal ini membuat nasi gandul tetap bisa dinikmati secara sehat, apalagi jika disandingkan dengan sayur rebus dan porsi terkontrol.
Penutup: Kearifan Rasa yang Tak Lekang oleh Zaman
Kembalinya nasi gandul ke meja makan generasi muda adalah bukti bahwa kuliner tradisional Indonesia tidak pernah benar-benar usang. Dengan kreativitas, inovasi, dan rasa hormat pada akar budaya, makanan seperti nasi gandul bisa menembus batas generasi, bahkan menjadi ikon kuliner masa depan.
Dalam sendokan nasi dan kuahnya yang hangat, tersimpan cerita leluhur, semangat lokal, dan kenikmatan yang tak pernah gagal menggugah selera.