Bima, 5 September 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat Kecamatan Bolo di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mengalami kekeringan ekstrem setelah periode Hari Tanpa Hujan atau HTH mencapai 105 hari. Kondisi tersebut menjadi periode tanpa hujan terpanjang yang tercatat di wilayah Kabupaten Bima berdasarkan pemantauan hingga Dasarian III Agustus 2026. Musim kemarau hingga kini masih berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, dan Kota Bima dengan curah hujan yang sangat rendah. Kondisi atmosfer juga belum menunjukkan peningkatan peluang hujan secara signifikan pada awal September. Kekeringan berkepanjangan tersebut meningkatkan risiko berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan peternakan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan serta mengatur penggunaan air secara lebih efisien selama periode kering masih berlangsung.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima Moch Syaiful Annas menjelaskan, hasil pemantauan dinamika atmosfer dan laut menunjukkan sejumlah kawasan masih berada dalam periode kemarau. Bolo menjadi wilayah dengan catatan HTH paling panjang, yakni 105 hari berturut-turut tanpa hujan yang memenuhi kriteria pengukuran. Dalam klasifikasi meteorologis, periode tanpa hujan lebih dari 60 hari telah masuk kategori kekeringan ekstrem. Artinya, kondisi yang terjadi di Bolo sudah jauh melampaui ambang tersebut dan membutuhkan perhatian serius dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Pemantauan HTH menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui perkembangan kekeringan meteorologis di suatu wilayah. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mendukung langkah antisipasi terhadap dampak lanjutan musim kemarau.
Tidak hanya Bolo, sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Bima juga menghadapi tingkat kewaspadaan kekeringan yang berbeda. Kecamatan Sanggar dan Monta tercatat berada dalam status siaga, sementara Bolo, Donggo, Lambitu, Soromandi, dan Wera masuk dalam status awas. Kondisi tersebut menunjukkan kekeringan tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja, tetapi telah mencakup sejumlah kawasan dengan karakter geografis dan aktivitas masyarakat yang berbeda. Secara lebih luas, sembilan dari 10 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat telah berada pada status awas kekeringan meteorologis pada awal September. Hanya Kota Mataram yang masih berada pada kategori siaga berdasarkan pemetaan peringatan dini. Situasi itu memperlihatkan musim kemarau tahun ini memberikan tekanan cukup luas terhadap ketersediaan air di NTB.
BMKG menjelaskan kekeringan tersebut turut dipengaruhi fenomena El Nino yang berada dalam kategori sangat kuat. Berdasarkan pemantauan terbaru di wilayah Bima, anomali suhu muka laut pada kawasan Nino 3.4 tercatat sekitar positif 2,74 derajat Celsius. Kondisi El Nino sangat kuat diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027 sehingga berpotensi memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia. Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu kawasan yang perlu meningkatkan kewaspadaan karena secara klimatologis memang mempunyai periode kemarau yang relatif jelas. Pengaruh fenomena global tersebut dapat menekan pembentukan hujan dan membuat periode tanpa hujan berlangsung lebih lama. Dampaknya kemudian terlihat pada semakin rendahnya curah hujan yang diterima sejumlah wilayah.
Pada Dasarian III Agustus 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB tercatat hanya berada pada kisaran 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Jumlah tersebut termasuk kategori rendah dan berada di bawah kondisi normal untuk sejumlah wilayah. Memasuki Dasarian I September, peluang hujan di Bima, Dompu, dan kawasan sekitarnya juga diperkirakan masih sangat kecil. Probabilitas terjadinya hujan berada di bawah 10 persen sehingga kondisi kering diperkirakan belum segera berakhir. Situasi tersebut membuat masyarakat tidak dapat sepenuhnya mengandalkan hujan untuk memenuhi kebutuhan air dalam waktu dekat. Pengelolaan cadangan air menjadi semakin penting terutama di desa-desa yang mempunyai keterbatasan sumber air alternatif.
Sepanjang September 2026, curah hujan bulanan di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu diperkirakan masih rendah. Akumulasi hujan di sejumlah wilayah diproyeksikan kurang dari 20 milimeter hingga sekitar 21–50 milimeter dalam satu bulan. Curah hujan rendah dengan akumulasi kurang dari 50 milimeter per bulan bahkan masih berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut berarti tekanan kekeringan dapat berlanjut selama beberapa pekan apabila tidak terdapat perubahan signifikan pada dinamika atmosfer. Masyarakat dan pemerintah daerah perlu mempersiapkan kebutuhan air dengan mempertimbangkan kemungkinan kemarau yang lebih panjang. Langkah antisipatif menjadi penting agar kekurangan air tidak berkembang menjadi gangguan serius terhadap kehidupan masyarakat maupun kegiatan ekonomi.
Peningkatan curah hujan baru diperkirakan mulai terlihat pada November 2026, meskipun jumlahnya belum langsung berada pada kategori tinggi. Sebagian besar wilayah diprediksi menerima curah hujan sekitar 51 hingga 100 milimeter per bulan pada periode tersebut. Peralihan menuju kondisi yang lebih basah juga dapat berlangsung berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Karena itu, perkiraan datangnya hujan tidak dapat dijadikan alasan untuk mengurangi kewaspadaan selama September dan Oktober. Pemantauan perkembangan iklim perlu terus dilakukan karena kondisi atmosfer dapat mengalami perubahan. Informasi dasarian menjadi salah satu acuan untuk menyesuaikan langkah mitigasi berdasarkan perkembangan terbaru.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang perlu melakukan penyesuaian paling besar terhadap kekeringan berkepanjangan tersebut. Petani diminta mempertimbangkan ketersediaan air sebelum menentukan jadwal tanam dan jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Pemilihan varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering dapat membantu mengurangi risiko kerugian ketika curah hujan berada jauh di bawah normal. Penggunaan air irigasi juga perlu dilakukan secara lebih efisien agar cadangan yang tersedia dapat dimanfaatkan dalam waktu lebih panjang. Pada wilayah yang mengandalkan pertanian tadah hujan, keputusan untuk memulai masa tanam perlu mempertimbangkan prakiraan musim secara cermat. Kesalahan menentukan waktu tanam dalam kondisi seperti sekarang dapat meningkatkan risiko tanaman mengalami kekurangan air sebelum memasuki masa panen.
Kondisi kering juga meningkatkan ancaman kebakaran lahan, terutama ketika vegetasi dan material organik kehilangan banyak kelembapan. Api dapat lebih mudah muncul dan menyebar apabila dipicu pembakaran terbuka maupun sumber panas lainnya. Masyarakat karena itu diminta menghindari aktivitas pembakaran sampah atau pembukaan lahan menggunakan api selama kondisi kemarau ekstrem berlangsung. Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga perlu memperkuat pemantauan pada kawasan yang mempunyai riwayat kebakaran. Deteksi dini menjadi penting agar titik api dapat segera ditangani sebelum meluas dan menimbulkan dampak terhadap permukiman maupun kualitas udara. Kewaspadaan tersebut perlu dipertahankan selama curah hujan masih berada pada tingkat rendah.
BMKG mengimbau masyarakat Bima dan wilayah lain di NTB terus mengikuti perkembangan informasi iklim dan peringatan dini selama periode kemarau. Penghematan penggunaan air perlu dilakukan baik untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, maupun kegiatan ekonomi lainnya. Pemerintah daerah juga diharapkan menyesuaikan langkah mitigasi berdasarkan tingkat kekeringan di setiap kecamatan sehingga bantuan dapat diarahkan kepada wilayah yang paling membutuhkan. Catatan 105 hari tanpa hujan di Bolo menjadi indikator kuat bahwa musim kemarau tahun ini membutuhkan kesiapsiagaan lebih tinggi. Dengan peluang hujan yang masih rendah hingga beberapa waktu mendatang, pengelolaan sumber daya air dan pencegahan kebakaran menjadi dua langkah yang perlu mendapatkan perhatian utama. Kesiapan sejak dini diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan terhadap masyarakat sampai curah hujan mulai meningkat menjelang akhir tahun.








