Liburan Tanpa Postingan? Tren Ini Sedang Meledak di Kalangan Anak Muda!
Tren yang benar-benar berbeda sedang mendominasi percakapan media sosial global. Disebut “Quiet Vacation”, fenomena ini mengajak orang untuk menikmati liburan tanpa posting, tanpa story, tanpa notifikasi. Yang mengejutkan, justru karena “tidak dibagikan”, tren ini viral dan menjadi perbincangan hangat di TikTok, Instagram, hingga X (Twitter).
Beberapa selebgram terkenal seperti Ayla Vee, Josh Meyer, dan influencer lokal seperti Rafi Ibrahim dan Nadine Karlina bahkan ikut meramaikan tren ini—dengan tidak mengunggah apapun saat liburan mereka. Sebagai gantinya, mereka hanya membagikan satu kalimat misterius:
“Best trip ever. No photo. No proof. Just peace.”
Alasan Tren Quiet Vacation Melejit
Ada sejumlah alasan mengapa tren ini begitu cepat meledak:
-
Kejenuhan Sosial Media: Banyak orang merasa lelah harus terus memperbarui status dan membandingkan hidup mereka dengan orang lain.
-
Detoks Digital: Liburan kini menjadi ajang untuk melepaskan diri dari tekanan sosial dan layar ponsel.
-
Nilai Keaslian: Semakin banyak anak muda yang ingin menikmati momen tanpa harus membuktikannya pada siapa pun.
Psikolog dari UI, Dr. Maya Surbakti, menjelaskan bahwa tren ini adalah bentuk protes lembut terhadap budaya performatif di media sosial.
“Quiet vacation adalah jalan pulang menuju keaslian. Orang ingin merasakan hidup tanpa gangguan digital, dan itu sehat secara psikologis,” ujarnya.
Destinasi Favorit untuk Quiet Vacation di Indonesia
Beberapa tempat wisata di Indonesia yang kini sedang naik daun karena cocok untuk tren ini, antara lain:
-
Ubud, Bali – Retreat yoga dan spa hening, dikelilingi alam yang damai.
-
Sumba Timur – Pantai tersembunyi dan desa adat tanpa sinyal kuat.
-
Pulau Weh, Aceh – Spot diving yang menenangkan dengan jaringan terbatas.
-
Tangkahan, Sumatera Utara – Hutan lebat, air terjun, dan tidak ada gangguan digital.
Hotel-hotel dan resort di tempat tersebut bahkan kini menawarkan paket “Digital-Free Getaway” dengan fasilitas seperti brankas untuk menyimpan ponsel selama menginap.
Dampak Sosial: Bukan Hanya Gaya Hidup, Tapi Juga Sikap
Yang menarik, quiet vacation bukan hanya sekadar tidak bermain ponsel saat liburan, tapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap dunia yang terlalu cepat, terlalu bising, dan terlalu sibuk membagikan segalanya.
Di media sosial, muncul tagar seperti:
-
#VacationWithoutProof
-
#DisconnectToConnect
-
#QuietVacationChallenge
Banyak warganet justru mengapresiasi postingan “diam” ini karena terasa lebih autentik dan menginspirasi untuk menjalani liburan yang lebih terasa, bukan hanya terlihat.
Kontroversi: “Quiet Vacation Tapi Tetap Dipamerkan?”
Namun tidak semua pihak memuji tren ini. Sejumlah pengguna X menyebut bahwa diam-diam memamerkan ketidakhadiran di media sosial justru menciptakan bentuk baru dari pamer terselubung.
“Kalau memang benar-benar quiet, kenapa masih bikin konten tentang ‘tidak bikin konten’?” tulis seorang kritikus digital dari Australia.
Meski begitu, bagi banyak orang, tren ini tetap dirasa sebagai angin segar dibandingkan budaya oversharing yang selama ini mendominasi.
Penutup: Quiet Vacation Bisa Jadi Gaya Hidup Baru?
Dalam dunia yang serba cepat, terkoneksi, dan penuh tekanan untuk tampil, tren quiet vacation datang sebagai bentuk pelarian sekaligus pembebasan.
Ini bukan sekadar tidak membuka Instagram atau TikTok selama liburan. Ini adalah bentuk kedewasaan digital—mampu memilih kapan harus hadir, dan kapan harus menyepi.
Mungkin, di tengah hiruk-pikuk algoritma dan pencitraan digital, kita semua mulai menyadari:
“Ada keindahan dalam tidak membagikan segalanya.”