⚔️ Sudan Terjerumus Lagi dalam Kekacauan: Jenderal Al-Rahman Ambil Alih Kekuasaan Lewat Kudeta Berdarah
Pada dini hari 11 Juli 2025, militer Sudan secara resmi menggulingkan pemerintahan transisi sipil-militer yang baru terbentuk enam bulan lalu. Kudeta ini dipimpin oleh Jenderal Farid Al-Rahman, tokoh militer senior yang sebelumnya menjabat kepala angkatan darat, dan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik dan protes ekonomi yang meluas di ibu kota Khartoum dan wilayah Darfur.
🔥 Kronologi Kudeta
-
10 Juli malam: Internet dan komunikasi seluler dimatikan secara nasional
-
11 Juli pukul 04.00: Tank dan kendaraan lapis baja mengepung istana presiden dan markas kementerian
-
PM sipil Abdullah Hashim ditangkap, bersama 11 anggota kabinet transisi lainnya
-
Jenderal Al-Rahman mengumumkan pembentukan “Dewan Keselamatan Nasional” dan pembekuan konstitusi sementara
💣 Situasi di Lapangan
-
Bentrokan senjata meletus di distrik Khartoum Selatan dan Omdurman
-
Demonstran anti-kudeta dibubarkan secara brutal, dengan laporan korban tewas mencapai 67 orang hanya dalam 24 jam
-
Rumah sakit kewalahan, dan organisasi HAM internasional melaporkan pelanggaran hak asasi dalam skala besar
🌍 Reaksi Internasional
-
PBB dan Uni Afrika mengecam keras kudeta, menyerukan kembalinya pemerintahan sipil
-
AS, Inggris, dan Prancis menghentikan bantuan ekonomi dan militer ke Sudan
-
Rusia dan Tiongkok menyatakan “keprihatinan”, namun belum mengutuk secara langsung
💡 Akar Masalah
-
Pemerintah transisi gagal memenuhi janji reformasi dan stabilisasi ekonomi
-
Krisis pangan dan inflasi di atas 150% mendorong gelombang demonstrasi rakyat
-
Persaingan internal antar faksi militer dan sipil melemahkan legitimasi pemerintahan bersama
🏛️ Implikasi Jangka Panjang
-
Proses demokratisasi Sudan kembali terancam mandek, mengulang siklus kudeta sejak 1958
-
Wilayah seperti Darfur dan Kordofan berpotensi kembali ke dalam perang sipil bersenjata
-
Gelombang pengungsi baru diperkirakan akan membanjiri perbatasan dengan Chad, Ethiopia, dan Mesir
📌 Kesimpulan
Kudeta Sudan pada 11 Juli 2025 mempertegas betapa rapuhnya transisi demokrasi di wilayah yang dilanda konflik berkepanjangan dan krisis ekonomi. Ketika militer kembali memegang kendali, harapan rakyat untuk kebebasan dan keadilan kembali pupus. Dunia kini dihadapkan pada dilema lama: intervensi atau membiarkan krisis ini memburuk secara global.