Pandeglang, 22 September 2026 – Keluarga lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih hilang di perairan Selat Sunda menggelar prosesi tabur bunga di pantai dekat Dermaga Pegedongan, Banten. Prosesi berlangsung pada Jumat, 18 September 2026, sehari setelah operasi pencarian dan pertolongan resmi dihentikan. Dermaga tersebut merupakan titik keberangkatan delapan orang sebelum hilang kontak pada 7 September lalu. Keluarga berdiri menghadap perairan sambil memanjatkan doa dan menaburkan bunga ke laut. Mereka tetap berharap akan muncul petunjuk mengenai keberadaan orang-orang yang mereka cintai.
Suasana haru menyelimuti prosesi setelah keluarga selama sekitar 10 hari mengikuti perkembangan operasi pencarian. Sejumlah anggota keluarga tidak mampu menahan tangis ketika bunga mulai ditaburkan ke perairan. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus doa bagi lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1 yang hingga saat itu belum ditemukan. Meski pencarian resmi telah dihentikan, keluarga masih menyimpan harapan adanya informasi baru. Mereka juga berharap masyarakat yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda dapat membantu memberikan informasi apabila menemukan sesuatu yang berkaitan dengan rombongan.
Lima jurnalis bersama tiga kru kapal sebelumnya berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026. Mereka menggunakan speedboat Arupadhatu 1 untuk menjalankan kegiatan peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Setelah rombongan kehilangan kontak, operasi SAR dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur dan memperluas wilayah pencarian di Selat Sunda. Kapal SAR, unsur TNI-Polri, serta berbagai armada pendukung dikerahkan selama operasi berlangsung. Namun hingga operasi memasuki hari ke-10, keberadaan kapal dan delapan orang tersebut belum dapat dipastikan.
Keputusan menghentikan operasi diambil setelah tim gabungan melakukan evaluasi pada Kamis, 17 September 2026. Gubernur Banten Andra Soni menjelaskan terdapat 13 objek yang ditemukan selama rangkaian pencarian. Seluruh temuan kemudian diperiksa dan dikonfirmasi oleh unsur terkait, tetapi tidak ada yang dinyatakan memiliki hubungan dengan speedboat Arupadhatu 1. Berdasarkan evaluasi tersebut, operasi pencarian dinilai tidak lagi efektif untuk diteruskan dengan pola yang sama. Penghentian operasi kemudian disampaikan kepada keluarga yang telah menunggu perkembangan pencarian sejak hari pertama.
Meski operasi gabungan telah berakhir, kemungkinan pencarian kembali dilakukan tetap terbuka apabila terdapat petunjuk baru. Informasi dari nelayan, kapal yang melintas, maupun masyarakat pesisir dapat menjadi dasar untuk melakukan tindak lanjut. Karena itu, berbagai pihak terus mengimbau masyarakat agar melaporkan apabila menemukan benda atau tanda yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu 1. Komunitas jurnalis juga melanjutkan komunikasi untuk menjaga arus informasi mengenai delapan orang yang hilang. Dukungan tersebut menjadi penting setelah operasi pencarian berskala besar tidak lagi berlangsung.
Prosesi tabur bunga turut menjadi momentum solidaritas bagi keluarga dan komunitas pers yang mengikuti proses pencarian sejak awal. Kehadiran rekan kerja dan perwakilan komunitas jurnalistik memberikan dukungan moral kepada keluarga di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung. Sejumlah kegiatan doa juga digelar secara terpisah setelah operasi SAR dihentikan. Koordinatoriat Wartawan Parlemen, misalnya, menggelar doa bersama dan menyatakan akan memberikan santunan kepada keluarga lima jurnalis. Upaya tersebut menunjukkan dukungan terhadap keluarga tetap berlangsung meskipun fase pencarian resmi telah berakhir.
Tabur bunga di dekat Dermaga Pegedongan pada akhirnya menjadi simbol penghormatan tanpa menghilangkan harapan keluarga terhadap munculnya kabar baru. Bunga-bunga yang dilepaskan ke laut mengiringi doa bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang keberadaannya masih belum diketahui. Keluarga masih menunggu informasi yang dapat memberikan kepastian setelah pencarian selama 10 hari belum membuahkan hasil. Tim SAR juga tetap membuka kemungkinan operasi dilakukan kembali apabila ditemukan petunjuk yang dapat diverifikasi. Hingga perkembangan terakhir, perhatian keluarga, komunitas pers, dan masyarakat masih tertuju pada kemungkinan ditemukannya informasi baru mengenai Arupadhatu 1 dan delapan orang di dalamnya.





