Jakarta, 9 Mei 2026 – Harga rumah yang terus meningkat di berbagai negara membuat kepemilikan hunian semakin sulit dijangkau, terutama bagi generasi muda dan masyarakat berpenghasilan menengah. Dalam sejumlah laporan internasional mengenai keterjangkauan properti, Indonesia disebut masuk dalam daftar negara dengan harga rumah yang dianggap tidak sebanding dengan tingkat pendapatan masyarakat.
Pengamat properti menjelaskan bahwa tingkat keterjangkauan rumah biasanya diukur dari perbandingan harga properti dengan pendapatan rata-rata warga. Semakin besar selisih antara harga rumah dan kemampuan penghasilan masyarakat, maka semakin sulit masyarakat membeli hunian sendiri.
Selain Indonesia, beberapa negara lain yang sering masuk dalam daftar harga rumah tidak terjangkau adalah kota-kota besar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara yang mengalami lonjakan harga properti dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya permintaan, keterbatasan lahan, dan pertumbuhan populasi perkotaan menjadi faktor utama kenaikan harga rumah.
Di Indonesia, harga rumah terutama di kota besar seperti Jakarta dan wilayah penyangga terus mengalami kenaikan seiring perkembangan kawasan urban dan meningkatnya kebutuhan hunian. Sementara itu, pertumbuhan pendapatan masyarakat dinilai belum mampu mengejar laju kenaikan harga properti.
Pengamat ekonomi menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat banyak generasi muda kesulitan membeli rumah pertama. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya memilih tinggal di rumah sewa, apartemen kecil, atau menunda kepemilikan rumah karena tingginya harga properti dan cicilan kredit.
Selain faktor harga tanah, biaya pembangunan, suku bunga kredit, dan perkembangan infrastruktur juga turut memengaruhi harga rumah di berbagai negara. Kawasan yang memiliki akses transportasi baik dan pusat ekonomi biasanya mengalami kenaikan harga lebih cepat dibanding daerah lain.
Pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, terus berupaya menghadirkan program perumahan terjangkau bagi masyarakat. Subsidi rumah, bantuan kredit, hingga pembangunan hunian vertikal menjadi beberapa solusi yang mulai dikembangkan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Pengamat sosial menilai persoalan keterjangkauan rumah kini menjadi tantangan global karena berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Kepemilikan hunian yang layak dianggap penting untuk mendukung stabilitas ekonomi keluarga dan kesejahteraan jangka panjang.
Di sisi lain, perkembangan investasi properti dan meningkatnya minat investor juga membuat harga rumah di sejumlah kota terus bergerak naik. Hal tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa generasi muda akan semakin sulit memiliki rumah sendiri di masa depan.
Fenomena mahalnya harga rumah menunjukkan bahwa kebutuhan hunian kini bukan hanya persoalan tempat tinggal, tetapi juga tantangan ekonomi dan sosial yang semakin dirasakan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.






