Jakarta, 2 September 2026 – Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memastikan kebutuhan dasar warga yang mengungsi akibat erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo terpenuhi selama masa tanggap darurat. Kepastian tersebut disampaikan Bobby saat meninjau langsung lokasi pengungsian di Jambur Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran, pada Selasa, 1 September 2026. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memperkuat penanganan pengungsi setelah aktivitas Gunung Sinabung meningkat dan statusnya berada pada Level III atau Siaga. Bobby menegaskan keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam menghadapi perkembangan aktivitas vulkanik tersebut. Pemerintah daerah juga diminta memastikan warga yang telah dievakuasi mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang memadai selama berada di lokasi pengungsian.
Salah satu perhatian utama pemerintah adalah pemenuhan kebutuhan pangan dan air bersih bagi para pengungsi. Kebutuhan dasar tersebut harus tersedia secara berkelanjutan agar masyarakat tidak terdorong untuk kembali ke rumah meskipun wilayah tempat tinggal mereka masih berada dalam zona berbahaya. Selain makanan dan air bersih, pemerintah juga memperhatikan kebutuhan tempat beristirahat, fasilitas kesehatan, sanitasi serta perlengkapan pendukung lainnya. Bobby meminta fasilitas di lokasi pengungsian disiapkan secara maksimal sehingga warga tetap merasa aman dan nyaman selama mengikuti proses evakuasi. Pemprov Sumut juga menyatakan siap memberikan dukungan logistik apabila kebutuhan masyarakat meningkat.
Evakuasi menjadi langkah penting setelah pemerintah menerima rekomendasi mengenai wilayah yang berpotensi terdampak aktivitas Gunung Sinabung. Desa Kuta Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena berada dalam radius yang dinilai berbahaya. Sekitar 280 warga dari desa tersebut telah berada di lokasi pengungsian di Sukatepu. Pemerintah terus mengimbau warga yang masih berada di zona rawan agar mengikuti arahan petugas dan tidak kembali sebelum kondisi dinyatakan aman. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko apabila aktivitas vulkanik kembali meningkat secara tiba-tiba.
Bobby juga meminta jajaran pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri dan relawan mempercepat proses evakuasi warga yang berada di zona merah. Pemerintah tidak ingin proses pemindahan warga terhambat karena kekhawatiran terhadap kondisi kehidupan selama berada di pengungsian. Karena itu, fasilitas pengungsian harus dipastikan layak sekaligus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam masa darurat. Pemerintah juga menyiapkan personel dan kendaraan untuk mengantisipasi kebutuhan evakuasi lanjutan. Langkah tersebut diperlukan karena perkembangan aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.
Kebutuhan pendidikan anak-anak pengungsi turut menjadi perhatian pemerintah. Dalam kunjungannya, Bobby menerima permintaan agar tersedia sarana transportasi yang dapat digunakan untuk mengantar anak-anak pengungsi menuju sekolah. Pemprov Sumut menyatakan akan menyiapkan kendaraan atau bus untuk mendukung aktivitas pendidikan mereka. Upaya tersebut dilakukan agar proses belajar anak-anak tidak sepenuhnya terhenti akibat perpindahan sementara dari tempat tinggal. Dengan adanya dukungan transportasi, pemerintah berharap anak-anak tetap dapat mengikuti kegiatan sekolah sembari menunggu kondisi di wilayah mereka kembali aman.
Selain kebutuhan masyarakat, pemerintah juga memperhatikan kondisi aset dan sumber penghidupan warga yang ditinggalkan selama proses evakuasi. Sejumlah warga masih memiliki ladang maupun ternak yang membutuhkan pengawasan selama mereka berada di pengungsian. Pemerintah menyiagakan personel untuk membantu menjaga kondisi di wilayah tersebut sekaligus mengantisipasi kemungkinan warga kembali secara mandiri ke kawasan berbahaya. Pendekatan ini penting karena keputusan untuk bertahan di pengungsian tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga kekhawatiran warga terhadap harta benda dan sumber pendapatan mereka.
Penanganan darurat juga melibatkan koordinasi antara Pemprov Sumut, Pemkab Karo, TNI, Polri dan unsur terkait lainnya. Ratusan personel gabungan telah disiagakan untuk mendukung proses evakuasi, pengamanan serta pelayanan masyarakat. Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Sinabung berdasarkan informasi dari lembaga yang berwenang dalam pemantauan gunung api. Setiap perubahan kondisi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan perluasan wilayah evakuasi. Koordinasi tersebut diharapkan membuat respons pemerintah lebih cepat apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
Bobby menekankan agar anggaran penanganan bencana digunakan secara tepat untuk memberikan fasilitas yang layak kepada masyarakat. Menurutnya, pengungsi harus mendapatkan pelayanan yang memadai selama menjalani masa tanggap darurat, mulai dari kebutuhan konsumsi hingga fasilitas pendukung lainnya. Pemerintah juga tidak ingin warga merasa kurang nyaman selama berada di lokasi pengungsian sehingga memilih kembali ke wilayah yang masih berisiko. Karena itu, kualitas pelayanan menjadi bagian penting dalam strategi keselamatan warga. Pemerintah akan terus mengevaluasi kebutuhan berdasarkan jumlah pengungsi dan perkembangan kondisi Gunung Sinabung.
Dengan penguatan evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut, Pemprov Sumut berharap masyarakat terdampak dapat menjalani masa tanggap darurat dengan lebih aman. Aktivitas Gunung Sinabung masih terus dipantau dan masyarakat diminta mengikuti informasi serta rekomendasi resmi terkait wilayah yang boleh maupun tidak boleh dimasuki. Pemerintah juga menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi pertimbangan utama dibandingkan keinginan untuk segera kembali ke rumah. Selama kondisi belum dinyatakan aman, warga di zona bahaya diharapkan tetap berada di lokasi pengungsian yang telah disediakan.






