Surabaya, 27 Agustus 2026 – Kecelakaan maut yang melibatkan Mitsubishi Outlander di Surabaya menjadi pengingat keras mengenai bahaya mengemudi setelah mengonsumsi minuman beralkohol. Insiden yang terjadi pada Minggu (23/8/2026) dini hari tersebut menewaskan seorang warga setelah kendaraan menabrak dua kendaraan di lokasi berbeda. Polisi menyebut pengemudi berada di bawah pengaruh alkohol dan kehilangan konsentrasi saat berkendara.
Kecelakaan bermula sekitar pukul 03.30 WIB di kawasan Jalan Taman Apsari. Outlander yang dikemudikan perempuan berinisial ENR (32) melaju dari arah selatan menuju utara. Saat berbelok ke kiri, kendaraan tersebut kehilangan konsentrasi dan menabrak taksi listrik VinFast yang sedang terparkir di sisi jalan.
Bukannya berhenti setelah tabrakan pertama, kendaraan tersebut terus melaju menuju Jalan Gubernur Suryo. Di sekitar Alun-Alun Surabaya, Outlander kembali menabrak seorang pria berinisial RPK (25) yang sedang menaikkan barang ke mobil pikap Mitsubishi L300 miliknya.
RPK mengalami luka berat dan langsung dilarikan ke RSUD Dr Soetomo Surabaya. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan korban dinyatakan meninggal dunia saat mendapatkan perawatan.
Polisi kemudian mengamankan ENR untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dan olah tempat kejadian perkara menunjukkan faktor manusia menjadi penyebab utama kecelakaan. Pengemudi diketahui berkendara dalam kondisi tidak berkonsentrasi akibat pengaruh minuman beralkohol. ENR juga diketahui tidak memiliki SIM dan STNK saat mengemudikan kendaraan tersebut.
Kasus tersebut semakin menjadi perhatian setelah pengemudi mengaku sempat panik dan berusaha meninggalkan lokasi setelah kecelakaan pertama. Ia kemudian kembali terlibat kecelakaan hingga menyebabkan korban jiwa. Polisi akhirnya menetapkan ENR sebagai tersangka dan menahannya untuk proses hukum lebih lanjut.
Mengapa mabuk sangat berbahaya saat mengemudi?
Alkohol dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan dan mempertahankan konsentrasi. Pengemudi juga dapat mengalami penurunan kemampuan memperkirakan jarak, kecepatan, serta waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi terhadap situasi di jalan.
Dalam kondisi tersebut, risiko kesalahan semakin besar. Pengemudi mungkin terlambat mengerem, salah membaca situasi lalu lintas, atau mengambil keputusan yang berbahaya. Masalahnya, orang yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol terkadang tidak menyadari bahwa kemampuan mengemudinya telah menurun.
Praktisi keselamatan berkendara Sony Susmana menggambarkan kondisi mengemudi saat mabuk sebagai situasi yang sangat berbahaya karena arah dan kecepatan kendaraan menjadi sulit diprediksi. Menurutnya, kecelakaan bisa terjadi karena pengemudi tidak lagi mampu mengendalikan kendaraan secara normal.
Risiko tersebut tidak hanya membahayakan pengemudi. Pengguna jalan lain, pejalan kaki, pengendara sepeda motor, maupun orang yang sedang beraktivitas di pinggir jalan juga dapat menjadi korban. Kasus di Surabaya memperlihatkan bagaimana keputusan seseorang untuk tetap mengemudi setelah mengonsumsi alkohol dapat berujung pada hilangnya nyawa orang lain.
Karena itu, prinsip paling aman sebenarnya sederhana: jangan pernah mengemudi setelah minum alkohol. Jika sudah mengonsumsi minuman beralkohol, kendaraan sebaiknya ditinggalkan dan gunakan pengemudi pengganti, transportasi umum, atau layanan transportasi daring.
Tidak ada perjalanan yang begitu mendesak hingga layak mempertaruhkan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Kecelakaan Outlander di Surabaya menjadi contoh nyata bahwa keputusan untuk tetap berada di balik kemudi dalam kondisi mabuk dapat membawa konsekuensi yang sangat serius.





