Jakarta, 10 September 2026 – Gut-brain axis (GBA) semakin mendapat perhatian dalam dunia kesehatan karena menggambarkan hubungan dua arah antara saluran pencernaan dan otak. Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), menjelaskan bahwa mekanisme tersebut memperlihatkan keterkaitan antara sistem saraf, sistem imun, dan mikrobiota yang hidup di dalam tubuh. Ketiga komponen tersebut tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling memberikan sinyal melalui berbagai jalur biologis. Kondisi saluran pencernaan dapat memengaruhi sejumlah fungsi tubuh, sementara keadaan psikologis dan aktivitas otak juga dapat memberikan pengaruh terhadap fungsi pencernaan. Pemahaman mengenai hubungan tersebut terus berkembang seiring semakin banyaknya penelitian mengenai mikrobiota usus dan perannya bagi kesehatan manusia.
Andy menjelaskan bahwa sistem saraf mempunyai hubungan dengan sistem imun, sementara sistem imun juga berinteraksi dengan mikrobiota. Hubungan tersebut membentuk jaringan komunikasi yang kompleks antara otak dan saluran pencernaan. Komunikasi tidak hanya berlangsung dalam satu arah dari usus menuju otak, tetapi juga sebaliknya dari otak menuju saluran cerna. Karena itu, perubahan pada salah satu bagian dapat berkaitan dengan respons pada bagian lainnya. Dalam perkembangannya, konsep ini juga dikenal sebagai microbiota-gut-brain axis ketika peran komunitas mikroorganisme di saluran pencernaan menjadi bagian utama pembahasan. Sejumlah penelitian menunjukkan komunikasi tersebut melibatkan jalur saraf, imun, metabolik, dan neuroendokrin.
Salah satu jalur komunikasi yang banyak dipelajari adalah saraf vagus yang menghubungkan berbagai organ dengan sistem saraf pusat. Saraf ini dapat membawa informasi dari saluran pencernaan menuju otak sekaligus menjadi bagian dari respons tubuh terhadap kondisi yang terjadi di dalam usus. Selain jalur saraf, mikrobiota menghasilkan berbagai metabolit yang dapat berinteraksi dengan sel usus, sistem imun, dan sistem saraf. Di antaranya adalah asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids, turunan triptofan, dan berbagai senyawa lain yang terbentuk melalui metabolisme mikroba. Sebagian sinyal tersebut dapat memengaruhi respons imun dan fungsi penghalang usus sebelum akhirnya memberikan efek yang lebih luas pada tubuh. Mekanisme yang saling berhubungan inilah yang membuat hubungan antara usus dan otak tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu jalur komunikasi.
Mikrobiota sendiri merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di berbagai bagian tubuh, termasuk dalam jumlah besar di saluran pencernaan. Komposisinya dapat dipengaruhi banyak faktor seperti pola makan, lingkungan, stres, penggunaan antibiotik, usia, dan berbagai kondisi lainnya. Dalam keadaan seimbang, mikrobiota mempunyai sejumlah fungsi yang berkaitan dengan metabolisme nutrisi, pematangan sistem imun, serta pemeliharaan integritas penghalang usus. Sebaliknya, perubahan komposisi dan fungsi mikrobiota atau disbiosis terus diteliti kaitannya dengan berbagai kondisi kesehatan. Meski hubungan tersebut ditemukan dalam banyak penelitian, tidak seluruh asosiasi berarti bahwa perubahan mikrobiota secara langsung menjadi penyebab suatu penyakit. Penelitian pada manusia masih diperlukan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat pada berbagai kondisi secara lebih pasti.
Andy juga menjelaskan pentingnya makanan dalam mendukung kondisi saluran pencernaan, termasuk melalui keseimbangan asupan yang berkaitan dengan prebiotik dan probiotik. Pola makan merupakan salah satu faktor lingkungan utama yang dapat membentuk komposisi dan aktivitas mikrobiota usus. Makanan yang dikonsumsi menyediakan substrat bagi mikroorganisme tertentu dan kemudian memengaruhi metabolit yang mereka hasilkan. Karena itu, hubungan antara pola makan, mikrobiota, fungsi penghalang usus, sistem imun, dan otak menjadi bidang penelitian yang terus berkembang. Namun, konsep tersebut tidak berarti satu jenis makanan atau produk tertentu dapat secara otomatis memperbaiki fungsi otak melalui usus. Dampaknya bergantung pada banyak faktor dan membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan pola makan secara keseluruhan serta kondisi setiap individu.
Hubungan antara saluran cerna dan otak juga dapat terlihat dari perubahan fungsi pencernaan ketika seseorang menghadapi kondisi psikologis tertentu. Otak melalui sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom dapat memengaruhi fungsi motorik, sensorik, sekresi, dan berbagai aktivitas gastrointestinal lainnya. Sebaliknya, sinyal yang berasal dari saluran pencernaan dapat diteruskan menuju otak dan ikut membentuk persepsi terhadap rasa lapar, mual, ketidaknyamanan, maupun nyeri. Mekanisme dua arah tersebut membantu menjelaskan mengapa kondisi psikologis dan gejala pencernaan terkadang dapat muncul secara bersamaan. Meski demikian, munculnya keluhan pencernaan tetap dapat disebabkan banyak faktor sehingga tidak dapat langsung disimpulkan sebagai akibat gangguan pada gut-brain axis. Pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila keluhan berlangsung lama, berat, atau disertai tanda yang mengkhawatirkan.
Dalam konteks anak, Andy mencontohkan kondisi bayi yang dahulu sering disebut infantile colic dan dalam pembahasan tertentu kini juga dikaitkan dengan konsep infant distress syndrome. Menurutnya, kondisi bayi tidak hanya perlu dilihat dari saluran pencernaan, tetapi juga bagaimana bayi beradaptasi dengan lingkungan setelah lahir. Perubahan dari lingkungan rahim yang relatif stabil menuju dunia luar menghadirkan berbagai rangsangan baru, mulai dari cahaya, suara, suhu, hingga pola tidur. Respons terhadap perubahan lingkungan tersebut dapat berkaitan dengan kondisi bayi secara keseluruhan. Karena itu, penanganan anak membutuhkan penilaian yang tidak hanya terpaku pada satu organ atau satu gejala. Orang tua juga perlu memperoleh penjelasan yang tepat agar tidak menyimpulkan seluruh tangisan atau ketidaknyamanan bayi sebagai gangguan saluran cerna.
Peran sistem imun menjadi bagian lain yang penting dalam hubungan usus dan otak. Saluran pencernaan mempunyai populasi sel imun yang besar dan terus berinteraksi dengan mikroorganisme yang berada di dalamnya. Dalam kondisi normal, sistem imun harus mampu mempertahankan toleransi terhadap mikroorganisme yang tidak berbahaya sekaligus tetap memberikan pertahanan terhadap patogen. Ketika terjadi perubahan keseimbangan mikrobiota, respons imun juga dapat mengalami perubahan melalui pelepasan berbagai molekul pemberi sinyal. Sejumlah molekul tersebut dapat masuk ke sirkulasi dan berinteraksi dengan sistem lain di tubuh. Penelitian mengenai mekanisme neuroimun menunjukkan bahwa jalur tersebut merupakan salah satu penghubung penting dalam komunikasi antara mikrobiota, usus, dan otak.
Berbagai penelitian kini mempelajari keterkaitan microbiota-gut-brain axis dengan fungsi kognitif, suasana hati, perkembangan saraf, hingga sejumlah gangguan neurologis dan metabolik. Namun, temuan tersebut harus dipahami secara hati-hati karena sebagian besar hubungan biologis bersifat kompleks dan dipengaruhi banyak variabel. Bukti mengenai asosiasi tidak selalu cukup untuk menyimpulkan bahwa mengubah mikrobiota akan mencegah atau menyembuhkan kondisi tertentu. Bahkan pada sejumlah penyakit yang banyak diteliti, hubungan sebab-akibat pada manusia masih harus dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih kuat. Karena itu, perkembangan ilmu mengenai GBA belum dapat dijadikan dasar untuk menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau terapi medis yang telah terbukti. Penelitian saat ini lebih banyak membuka pemahaman baru mengenai bagaimana berbagai sistem tubuh saling berkomunikasi.
Pemahaman mengenai gut-brain axis pada akhirnya memperlihatkan bahwa kesehatan saluran pencernaan mempunyai hubungan yang lebih luas daripada sekadar proses mencerna makanan. Sistem saraf, sistem imun, mikrobiota, metabolisme, dan fungsi otak membentuk jaringan komunikasi dua arah yang bekerja secara dinamis. Pengetahuan tersebut juga memperkuat pentingnya melihat kesehatan secara menyeluruh, termasuk pola makan seimbang, kondisi psikologis, aktivitas fisik, tidur, serta penggunaan obat secara tepat. Pada anak, pemahaman yang lebih baik dapat membantu orang tua dan tenaga kesehatan melihat gangguan pencernaan maupun perilaku dengan perspektif yang lebih komprehensif tanpa menarik kesimpulan berlebihan. Seiring berkembangnya penelitian, mekanisme gut-brain axis diperkirakan akan semakin dipahami dan dapat membuka pendekatan baru dalam menjaga kesehatan. Untuk saat ini, temuan ilmiah tersebut terutama memperlihatkan betapa eratnya komunikasi antara saluran pencernaan, mikrobiota, sistem imun, dan otak dalam mempertahankan keseimbangan tubuh.





