Jakarta, 17 September 2026 – Pemerintah Qatar memperingatkan bahwa gangguan terhadap pelayaran di Selat Bab al-Mandab berpotensi menimbulkan konsekuensi serius bagi perdagangan dan perekonomian dunia. Peringatan tersebut disampaikan ketika kawasan Timur Tengah menghadapi tekanan terhadap sejumlah jalur pelayaran strategis, termasuk penurunan tajam lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Bab al-Mandab merupakan jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan selanjutnya Samudra Hindia. Gangguan di kawasan tersebut dapat memengaruhi pergerakan kapal dagang, energi, dan berbagai komoditas yang menuju maupun meninggalkan Terusan Suez. Qatar menilai tekanan secara bersamaan terhadap lebih dari satu jalur laut utama dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih luas. Situasi keamanan di kawasan Laut Merah karena itu menjadi perhatian bagi negara-negara yang bergantung pada perdagangan dan pasokan energi melalui jalur tersebut.
Peringatan Qatar muncul ketika situasi keamanan di sekitar Laut Merah dan Yaman kembali mengalami peningkatan ketegangan. Perkembangan konflik telah meningkatkan kekhawatiran terhadap kebebasan navigasi di sekitar Bab al-Mandab. Qatar menekankan pentingnya menjaga jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Gangguan berkepanjangan berpotensi membuat perusahaan pelayaran mengambil rute alternatif yang lebih panjang untuk menghindari kawasan berisiko. Perubahan jalur akan meningkatkan waktu perjalanan sekaligus biaya operasional kapal. Dampaknya kemudian dapat diteruskan kepada rantai pasok dan harga berbagai barang di pasar internasional.
Bab al-Mandab memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena menjadi pintu masuk selatan menuju Laut Merah. Kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez pada umumnya harus melewati jalur tersebut. Apabila akses terganggu, sebagian kapal dapat memilih perjalanan mengitari Tanjung Harapan di bagian selatan Afrika. Pilihan itu membutuhkan jarak dan waktu perjalanan jauh lebih panjang dibandingkan jalur normal melalui Laut Merah. Bertambahnya waktu perjalanan juga berarti penggunaan bahan bakar dan biaya awak kapal meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap tarif angkutan laut internasional.
Risiko menjadi semakin besar karena lalu lintas melalui Selat Hormuz juga mengalami gangguan. Data pelayaran terbaru menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Hormuz turun menjadi empat kapal pada Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya yang mencapai sekitar 18 kapal. Selat tersebut sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Pada saat yang sama, lalu lintas melalui Bab al-Mandab masih tercatat sekitar 22 kapal, sedikit turun dari 24 kapal sehari sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan besarnya perhatian terhadap kemungkinan munculnya gangguan pada jalur laut kedua ketika Hormuz sudah mengalami tekanan.
Qatar memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional karena negara tersebut merupakan salah satu produsen dan eksportir gas alam cair utama dunia. Perdagangan energi membutuhkan jalur laut yang aman agar pengiriman dapat dilakukan secara teratur kepada negara pembeli. Gangguan terhadap jalur strategis dapat meningkatkan ketidakpastian mengenai jadwal pengiriman dan biaya transportasi. Perusahaan juga harus memperhitungkan risiko keamanan tambahan ketika kapal melewati kawasan konflik. Premi asuransi dapat meningkat ketika tingkat ancaman terhadap pelayaran bertambah. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi biaya keseluruhan perdagangan energi internasional.
Dampak gangguan Bab al-Mandab juga tidak terbatas pada sektor minyak dan gas. Kapal kontainer yang membawa produk manufaktur, bahan baku, makanan, hingga berbagai barang konsumsi menggunakan jalur Laut Merah sebagai salah satu rute utama perdagangan Asia-Eropa. Perjalanan yang lebih panjang dapat menyebabkan waktu pengiriman bertambah dan ketersediaan kapasitas kapal menjadi lebih terbatas. Perusahaan yang bergantung pada sistem persediaan dengan jadwal ketat dapat menghadapi kebutuhan untuk menyesuaikan rantai pasok. Pelabuhan juga berpotensi mengalami perubahan jadwal kedatangan kapal dalam jumlah besar. Efek tersebut dapat menyebar ke berbagai sektor ekonomi meskipun negara yang terdampak berada jauh dari kawasan konflik.
Ketegangan terbaru juga berkaitan dengan perkembangan konflik yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi. Houthi dalam beberapa waktu terakhir memperluas penguasaan di kawasan pesisir Laut Merah dan pulau-pulau strategis dekat Bab al-Mandab. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Arab Saudi dan Houthi juga saling melancarkan serangan dalam eskalasi terbaru. Situasi tersebut membuat keamanan perairan di sekitar Yaman kembali menjadi perhatian internasional. Negara-negara berkepentingan terus mengikuti perkembangan karena perubahan kecil di kawasan tersebut dapat berdampak terhadap arus perdagangan global.
Gangguan pelayaran juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga energi. Ketika kapal harus menempuh perjalanan lebih panjang atau menghadapi risiko keamanan lebih besar, biaya pengiriman minyak dan produk energi dapat meningkat. Ketidakpastian pasokan juga dapat memengaruhi keputusan pelaku pasar meskipun produksi secara fisik tidak mengalami perubahan besar. Efek tersebut kemudian dapat menjalar kepada biaya transportasi, industri, dan harga barang di berbagai negara. Negara pengimpor energi memiliki kerentanan lebih besar ketika biaya pengiriman meningkat dalam waktu bersamaan dengan harga komoditas. Stabilitas jalur pelayaran karena itu memiliki hubungan langsung dengan stabilitas ekonomi internasional.
Qatar mendorong upaya internasional untuk memastikan Bab al-Mandab tetap dapat digunakan secara aman. Kebebasan navigasi dinilai penting karena jalur tersebut tidak hanya melayani kepentingan negara-negara Timur Tengah. Negara-negara Asia, Afrika, dan Eropa memiliki kepentingan terhadap kelancaran perdagangan melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Upaya diplomatik untuk meredakan konflik menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi risiko terhadap pelayaran. Pada saat yang sama, perusahaan pelayaran akan terus melakukan penilaian keamanan sebelum menentukan rute yang digunakan. Keputusan tersebut dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
Peringatan Qatar mengenai Bab al-Mandab memperlihatkan besarnya risiko apabila beberapa jalur perdagangan utama dunia mengalami gangguan secara bersamaan. Tekanan terhadap Hormuz sudah memengaruhi pergerakan kapal, sementara meningkatnya konflik di sekitar Yaman menimbulkan kekhawatiran baru terhadap Laut Merah. Penutupan atau gangguan serius Bab al-Mandab dapat memaksa lebih banyak kapal menghindari Terusan Suez dan menempuh perjalanan mengitari Afrika. Konsekuensinya dapat berupa kenaikan biaya logistik, keterlambatan pengiriman, serta tekanan terhadap pasar energi dan rantai pasok internasional. Stabilitas kawasan karena itu tidak hanya menjadi persoalan keamanan regional, tetapi juga berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi global. Perkembangan di sekitar Bab al-Mandab akan terus menjadi perhatian selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda.





